Rindu Tak Bertepi ke Makam Sang Nabi
Rabu sore, 31 Desember 2014. Jam menunjukkan pukul 07.00 waktu Madinah. Co Pilot Saudi Arabian Airlines mengumumkan dari flight deck atau kokpit bahwa pesawat milik Kerajaaan Arab Saudi itu akan segera landing. Alhamdulillah, sesaat kemudian saya bersama empat puluh dua orang jamaah umrah asal Aceh lainnya dengan rute Jakarta – Madinah merasakan bahwa burung besi yang kami tumpangi itu benar-benar telah merapatkan perutnya ke pelataran Bandara Prince Muhammad bin Abdulaziz (AMA), Madinah , dengan mulus dan aman.
Dalam perjalanan umrah kali ini para jamaah bersepakat menetap di Madinah selama lima hari. Kami tentu sangat bersyukur kehadiraan kami di Kota Nabi ini bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1436 H/ 3 Januari 2015 M, di mana di Aceh pada tanggal tersebut dan beberapa bulan selanjutnya meriah dengan acara peringatan maulidurrasul. Tentu di Madinah yang merupakan territorial dari Kerajaan Wahabi ini tidak ada serimoni maulid Nabi. Mereka menganggapnya bid’ah.
Melalui citizen reporter kali ini saya tidak akan bercerita soal sikap ambiguitas kerajaan sekutu dekat Amerika Serikat ini yang sangat anti “bid’ah”. Saya cuma ingin mendeskripsikan suasana batiniah saya yang seakan rindu tak bertepi, nyaris tidak sabaran untuk segera memasuki Mesjid Nabawi dimana kuburan Baginda Rasulullah SAW berada. Namun keinginan sore itu menuju makam Nabi tidak terpenuhi, karena jadwal untuk jamaaah perempuan hanya di pagi hari.
Alhamdulillah selama di Madinah, Allah SWT telah mudah dan lapangkan kaki kami setiap pagi melangkah berziarah ke makam Sang Nabi. Namun semua itu tidak pernah mereduksi energi rindu kami, rindu yang tidak bertepi akan Sang Nabi.
Mungkin ada dua hal yang membuncahkan rasa rindu saya yang nyaris tidak terkendali untuk berziarah ke makam Nabi kali ini. Seperti ada tarikan magnet yang luar biasa. Pertama mungkin karena momentum 12 Rabiul Awal. Dan kedua, saya sangat risau dengan issu yang beredar beberapa waktu yang lalu --- yang saya yakini bukan sebuah isu, tetapi benar sebuah tekad yang sedang dijejaki Pemerintah Saudi yang sangat “anti kuburan” untuk melihat reaksi dunia Islam --- bahwa Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia dengan alasan khurafat, bid’ah dan perluasan Mesjid Nabawi akan merelokasikan kuburan Nabi Muhammad SAW. Saya haru dan sedih setiap ingat issu itu.
Dalam suasana keharuan dan linangan air mata ketika memberi salam di sisi makam kepada Rasulullah SAW, ada kerisauan dan kekhawatiraan di sudut hati saya akan nasip masa depan kuburan Nabi ini. Pertanyaan yang selalu bergelayut di hati saya adalah: Benarkah Pemerintah Saudi tidak akan merelokasi atau lebih jelek lagi menghilangkan jejak kuburan Nabi itu?.
Sangat Mungkin
Dengan rekam jejak perilaku Saudi terhadap sejumlah situs sejarah/ tempat suci di negeri itu, kekhawatiran itu sangat mungkin terjadi. Buktinya, banyak situs bersejarah yang telah dihilangkan jejaknya di negeri ini. Alasannya simple saja: Situs-situs itu akan merusak akidah umat alias syirik. Paling tidak dari sejumlah sumber yang saya dapati, ada tiga situs bersejarah dan penting bagi umat Islam yang telah dengan sengaja dihilangkan jejaknya oleh pihak kerajaan.
Pertama, tempat
lahir Nabi Muhammad SAW digusur dan di
atasnya dibangun perpustakaan. Kedua, kuburan keluarga Rasulullah SAW juga
dihancurkan. Dalam sejumlah catatan sejarah pada 21 April 1925,
lokasi kuburan Jannatul Baqi tempat
keluarga Nabi Muhammad dimakamkan
dihancurkan oleh Raja Abdul Aziz bin Saudi. Di sini terbaring Shafiah (bibi
Rasulullah), Ibrahim, putra baginda nabi, dan masih banyak lagi, termasuk putra
Umar binKhattab, dan ibu Ali bin Abi Thalib,Fatimah binti Asad.
Ketika itu Kerajaan Saudi beralasan butuh banyak pengeluaran merawat dan merekonstruksi makam-makam itu sebab bangunannya sudah banyak yang rusak. Tak berapa lama kemudian, pemerintah Saudi justru membangun hotel mewah dengan jam raksasa di atasnya disekitaran Ka’bah.
Ketiga, Kerajaan Saudi dengan
alasan perluasan Mesjidil Haram juga telah menghancurkan rumah Saidatina Khadijah, dan menjadikannya sebagai toilet.
Rumah Khaditajah, Isteri Nabi SAW ini, merupakan tempat suci karena di awal kenabian
beberapa kali di tempat ini Jibril as mendatangi Nabi SAW membawa wahyu. Namun cara berpikir ulama dan Pemerintah
Saudi sederhana: tempat itu bila dilestarikan dapat menimbulkan kesyirikan.
Namun mereka lupa, menjadikan rumah Nabi/ Isteri Nabi dan juga tempat turun wahyu sebagai toilet adalah perbuatan
keji. Sikap seperti ini bisa jadi sama
dengan sikap kafir Quraisy di awal kenabian yang melempar Nabi SAW dengan
(maaf) taik.
Dengan rekam jejak anti situs bersejarah
seperti di atas, bukan tidak mungkin Pemerintah Saudi suatu ketika akan menghilangkan jejaknya makam Nabi SAW
seperti sejumlah situs sejarah atau
tempat suci lainnya di negeri itu.
Dalam sejumlah catatan
sejarah, Muhammad bin
Abdul Wahab ((1115 – 1206 H/1701 – 1793 M)) sang ideolog Kerajaan
Saudi Arabia --- yang ajaran theologinya
sekarang mewarnai kebijakan keagamaaan Kerajaan Saudi --- bersama Ibnu Su’ud
(pendiri Kerajaan Saudi)
bukanlah
sosok yang memperhatikan kesantunan
terhadap Nabi SAW. Bahkan menurut Habib
Munzir Al Musawa ( Pimpinan Majelis
Rasulullah, Jakarta) Muhammad bin Abdul
Wahab pernah berkata dengan tegas, “Tongkatku ini masih lebih baik
dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular,
sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama
sekali”. Walalahu a’lam. Benarkah demikian?.
Terkait issu rencana relokasi makam Nabi SAW memang telah dibantah oleh sejumlah perwakilan Kerajaan Saudi .
Namun apakan ini taktik saja, ketika
reaksi dunia mengecam lalu Pemerintah Saudi sedikit melunak
dengan mengatakaan tidak ada rencana itu. Ya semoga saja benar rencana itu tidak benar.
Beda Perspektif
Dalam soal kuburan memang ada perbedaan perspektif
antara ulama pengikut Muhammad bin Abdul Wahab yang saat ini menguasai mainstream pemikiran keagamaan di Saudi dengan sejumlah ulama di luar komunitas wahabi
lainnya di dunia.
Kerajaan Saudi menganggap bidah menziarahi kuburan. Ini tentu
berseberangan dengan kebiasaan penziarah
dari Iran, Turki, India, Pakistan, Banglades, Indonesia, Malaysia dan wilayah
Asia Tenggara lainnya. Bagi para penziarah
dari wilayah ini, ziarah kubur merupakan
bagian dari kultur mereka dan diyakini dianjurkan Nabi SAW untuk mengingat
mati.
Dengan perspektif yang berbeda dalam memandang
keberadaan makam Nabi SAW antara Pemerintah Saudi dengan mayoritas umat Islam
di dunia, maka Pemerintah Saudi akan menghadapi kecaman dan kutukan dari
berbagai penjuru dunia bila benar nekad menghilangkan jejak makam Nabi SAW.
Wahai Pemerintah Saudi, ketahuilah, ketika kami
menziarahi makam Nabi dengan linangan
air mata, sadarilah bahwa itu semua timbul karena kecintaan dan rindu kami akan
Sang Rasul. Kami tidak menuhankan kuburan Nabi, seperti prasangka kalian!. Assalamu’alaika ya rasulullah. Assalamu’alaika
ya habibillah []

0 komentar
Silahkan tinggalkan komentar anda...