Mengibarkan B3 Tanpa Marah-Marah
Hanya beberapa menit saja setelah video “insiden” Abdullah Saleh, Ketua Komisi I DPRA secara “simbolik menggerek” Bendera Bintang Bulan (B3) ke leher A. Hamis Zain, Sekretaris DPR Aceh, Senin, 4/5, diunggah ke media sosial, ratusan cuit atau komentar bermunculan di dunia maya mengomentari kejadian yang dikategorikan lawak tidak berkualitas tersebut. Rata-rata subtansi komentar di medsos itu mengecam dan bernada sinis. Inti dari semua respon publik tersebut sederhana saja: Tidak sepantasnya peristiwa itu terjadi.
Ketidakpantasan itu paling tidak ditopang oleh tiga alasan.
Pertama, almukabbir almudabbir Tgk. Hasan Muhammad Ditiro sebagai penggagas, pendiri sekaligus ideolog utama GAM dengan kearifan beliau yang luar biasa telah memilih jalan damai dan diplomatis dalam meraih cita-cita rakyat Aceh yang direpresentasikan melalui paket perjuangan panjang dan berliku GAM.
Jalan damai dan diplomatis tersebut itulah kemudian melahirkan output UUPA yang salah satu subtansinya terkait B3. Pilihan jalan damai yang diinisiasi almarhum Tgk Hasan Muhammad Ditiro kita lihat selanjutnya diterjemah dengan baik dan apik oleh sejumlah petinggi GAM pasca wafat Tgk Hasan Muhammad Ditiro.
Kita sama-sama melihat betapa sabar, arif, cermat, hati-hati plus diplomatis pelanjut cita-cita perjuangan Tgk Hasan Muhammad Ditiro, seperti Wali Nanggoroe Tgk. Malik Mahmud Alhaytar, Gubernur Zaini Abdullah, juga Muallem ketika terus menerus membangun komunikasi politik dengan sejumlah pihak pemangku kepentingan di Jakarta.
Sikap diplomatis dan penuh sabar pemimpin Aceh sekaligus loyalis Tgk Hasan Muhammad Ditiro itu bukanlah bermakna kalah atau mengalah. Tapi itulah konsekwensi logis dari pilihan politik meninggalkan opsi perang dan memilih opsi damai melalui jalur diplomasi dalam memperjuangkan berbagai paket kepentingan Aceh. Uleu beu mate ranteng bek patah.
Tentu ketika kita dengan sadar memilih jalur damai, maka disaat bersamaan berbagai langkah yang kita tempuh haruslah diplomatis dan tidak menjauh dari spirit damai itu sendiri. Sampai dunia kiamatpun , Aceh akan selalu kalah ketika berhadapan dengan Jakarta bila dalam setiap negoisasi kita memilih cara marah-marah.
Sikap diplomatis dan penuh sabar dalam memperjuangkan kepentingan Aceh yang diperlihatkan Wali Nanggroe, Gubernur Aceh dan Mualem serta sejumlah petinggi eks GAM lainnya seharusnya tertansfer dengan baik kepada semua pihak di Aceh, baik yang bertugas di eksekutif, legislatif maupun berbagai komponen sipil strategis lainnya di Aceh.
Saya yakin, andai spirit yang dipancarkaan tiga pemimpin Aceh itu terinternalisasi dengan baik kepada semua pihak, termasuk Tgk. Abdullah Saleh sebagai kader PA, maka insiden “marah-marah” dekat tiang bendera DPRA itu tidak perlu terjadi.
Kedua, saya sangat terkejut ketika seorang kawan yang berprofesi sebagai wartawan di Jakarta mengirim video insiden tersebut melalui line dan whatsApp. Karena saya kenal betul dengan profil Tgk. Abdullah Saleh --- sekalipun beliau tidak kenal saya. Di banyak kesempatan profil Tgk Abdullah Saleh menjadi perhatian saya, baik ketika saya sebagai aktifis pemuda maupun ketika bertugas sebagai public relations di Pemerintah Aceh beberapa waktu yang lalu.
Tgk Abdullah Saleh adalah politisi berbakat dan penuh talenta dari Pantai Barat Aceh. Beliau politisi bersahaja, mampu mengendalkikan diri dalam situasi genting, sangat sabar serta memiliki basis argument yang hebat saat berdiskusi. Tidak banyak politisi Aceh yang kapabel seperti beliau. Karenannya pantas saja beliau pernah jadi Sekretaris DPW PPP Aceh dan menjadi anggota DPRA mewakili partai berlaambang Ka’bah itu. Selanjutnya, saat ini adalah periode kedua beliau menjadi anggota DPRA mewakili Partai Aceh.
Sebagai politisi senior yang kenyang asam garam perpolitikan Aceh, baik masa damai maupun konflik, atraksi Tgk Abdullah Saleh yang saya saksikan di tayangan video itu membuat saya tersentak, terlihat posisi Tgk Abdullah Saleh seperti “terjebak” dan tidak mampu mengelak ketika pimpinan sebuah LSM menyerahkan B3 dan meminta agar segera dinaikkan di halaman gedung DPR. Sebagai politisi senior selayaknya Tgk Abdullah Saleh mampu melayani setiap “desakan” seperti itu dengan penuh professional dan kelihaian insting seorang politisi. Tapi sepertinya tokoh Beutong Ateuh ini tidak berdaya dan tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan politisi lihai di saat seperti itu.
Banyak pihak yang memberikan masukan di media sosial, seharusnya yang dilakukan Tgk. Abdullah Saleh dan pendukung B3 lainnya bukanlah bersitegang dan bersikap kasar di ruang publik, tapi mengambil sejumlah langkah cerdas dan taktis dalam rangka mengakhiri kebekuan komunikasi soal Bendera Aceh dengan Jakarta, bukan memaksa diri menaikkan B3 ketika persoalan yang melingkupinya belum selesai benar.
Ketika menyaksikan aksi heroik Tgk. Abdullah Saleh tersebut, ternyata --- seperti terupdate di media sosial --- banyak pihak yang bertanya, apakah ada atau tidak unsur provokatif dibalik peristiwa ini. Lalu kemudian dengan insting dan talenta politik yang dimiliki Tgk. Abdullah Saleh, beberapa saat setelah peristiwa itu, apakah beliau akan menyadari ada atau tidak unsur provokasi di balik peristiwa ini. Karena di setiap panggung politik hanya ada dua kejadian yang menimpa seorang politisi: menjadi tukang pancing atau sebaliknya menjadi korban pancingan.
Ketiga, apa yang kemarin dilakukan A. Hamid Zain selaku Sekretaris DPRA adalah tindakan yang benar dan itu merupakan tupoksi seorang Sekwan. Sebagai sesama Aparatur Sipil Negara (ASN) saya bersimpati dan berempati dangan apa yang menimpa A. Hamid Zain.
Sebagai birokrat senior dan terlibat sebagai penyuplai ide saat pembahasan RUUPA tempo dulu, A. Hamid Zain tahu benar konsekwensi bila kemarin B3 itu jadi dinaikkan di tiang bendera DPRA. Karena, suka atau tidak, pemerintah pusat punya kewenangan mengevaluasi setiap qanun/ perda, termasuk qanun yang mengatur Bendera Aceh.
Sebagai Sekwan saya yakin A. Hamid Zain bukan tidak sepakat dengan subtansi format bendera Aceh yang diusung mayoritaas anggota DPRA, tapi semuanya harus ditempuh sesuai prosudur dan mekanisme yang ada. Di saat bersamaan dalam kondisi terjepitpun, sebagai Sekwan A. Hamid Zaini harus taktis dan diplomatis. Seorang Sekwan hanya menerima perintah dari Pimpinan DPRA, tidak dari yang lain. Sebagai Sekwan, A. Hamid Zain telah bertindak benar. Sebagaimana juga Tgk. Abdullah Saleh telah berada di jalan yang benar ketika benar sungguh-sungguh dan sungguh benar-benar memperjuangkan agar B3 segera berkibar ban sigom Aceh.
Akhirnya, kita tunggu dan berharap B3 segera berkibar. Tapi ingat, kita tidak menunggu dan tidak sama sekali berharap akan ada lagi anggota dewan bersikap kasar di pentas publik, dengan alasan apa pun. Karena, di samping tidak bagus bagi reputasi yang bersangkutan, tindakan seperti itu juga tidak sehat bagi praktek demokrasi di Aceh dan pendidikan politik generasi muda kita.
Mari kita bersatu padu menyatukan langkah dan hati, memperjuang dan mengibarkan Bendera Bintang Bulan (B3) tanpa marah-marah. Mari kita “tundukkan” Jakarta dengan kekuatan jaringan dan diplomasi berkualitas. Bek beungeh-beungeh, karena beungeh-beungeh bagah tuha.[].

0 komentar
Silahkan tinggalkan komentar anda...