Jenewa Kota Islami
Saya yakin, banyak dari Anda tidak setuju dengan judul
di atas. “Jenewa kok Islami,
bukankah kebanyakan warganya penganut Katolik Roma?”, begitu barangkali
komentar Anda ketika awal membaca reportase ini. Ya, apa hendak dikata,
sekalipun mayoritas warga Jenewa adalah penganut Katolik Roma, faktanya harus
diakui bahwa Kota Jenewa itu memang Islami.
Sebagai informasi, Kota Jenewa merupakan kota terpadat
kedua di Swiss, dengan populasi penduduk lebih dari 180.000 jiwa. Kota ini
merupakan salah satu kota yang paling dikenal, karena beberapa organisasi
internasional menempatkan markas
besarnya disini, seperti Palang Merah Internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB), Komisi Hak Asasi Manusia, Organisasi Buruh Dunia, Dewan Gereja Sedunia,
organisasi penyandang cacat dan lain sebagainya.
Selama berada di Jenewa saya sangat tertarik dan
mengamati benar dinamika kota ini yang
menurut saya sangat luar biasa.
Saya ingin menyampaikan beberapa fakta berikut ini
terkait alasan saya menyebutkan Jenewa
Kota Islami. Selanjutnya terserah Anda
berkesimpulan masing-masing.
Bagi saya sebuah kota islami tidak mesti di negeri
Islam. Di negeri kafir pun, bila sebuah kota tertata dengana baik dan memperhatikan kepentingan publik sesuai dengan nilai-nilai Islam, maka kota itu
adalah kota islami. Sebaliknya, sekalipun di sebuah negeri Islam bila kotanya seronok, tidak
teratur dan dinamikanya hanya untuk pencitraan, maka label kota tersebut sebagai
kota islami layak kita diskusikan kembali.
Fakta pertama. Hari Minggu tanggal 13 September
2015 bersama rombongan saya datang ke pusat perbelanjaan
Kota Jenewa. Sekedar informasi saja, di pusat perbelanjaan yang terletaak di
tengah-tengah Kota Jenewa itu terdapat berbagai pertokoan yang menjajakan
berbagai produk dan merek terkenal di dunia. Katakanlah seperti Rolex, Hermes,
Bucherer, Montblance, Prada, Benoid De Roski, Tissut, dan lain-lain.
Ternyata saya kecolongan. Keinginan sekerdar
melihat-lihat saja berbagai merek terkenal dunia itu tidak kesampaian. Semua
toko di pusat perbelanjaan Kota Jenewa tutup pada hari Minggu. Menurut pengakuan beberapa pihak di
Kota Jenewa, tradisi tidak berdagang di hari Minggu telah menjadi kebiasaan
warga Kota Jenewa sejak ratusan tahun lalu.
Ternyata, warga Kota Jenewa tidak berjualan hari
Minggu bukan karena hari libur atau kebijakan pemerintah. Lebih karena tradisi
mereka yang relegiusitas. Mereka sengaja tidak berjualan hari Minggu --- dengan konsekwensi kehilangan pendapatan
milyaran rupiah --- hanya karena mereka ingin
bersiap-siap dan berkonsentrasi melaksanakan ibadah mingguan di gereja. Mereka
boleh saja menjadi warga kota modern dan kapitalis, tetapi soal kekhidmatan
beragama tidak mereka nomor duakan. Mereka tutup toko dan tidak lalu lalang di
jalan saat prosesi kebaktian berlangsung di gereja. Jalanan di Kota Jenewa benar-benar
lenggang dalam interval waktu pelaksanaan ibadah Mingguan di gereja. Memang
seuatu banget.
Saat berada di tengah pertokoan Kota Jenewa yang tutup
di hari Minggu itu, saya teringat kondisi negeri sendiri. Di Aceh yang Serambi
Mekkah, termasuk di Banda Aceh Kota Madani, hari Jumat bahkan saat berlangsung
ibadah Jumat bukanlah detik-detik yang penuh khidmat dan sakral. Banyak dan sangat mudah menjumpai toko-toko yang terus buka. Saat di mesjid sedang
berlangsung ibadah Jumat, di jalan-jalan terus berlalu lalang kenderaan bahkan
dengan klakson yang tidak sungkan.
Fakta kedua. Di
tengah Kota Jenewa ada sebua dana yang indah. Danau Leman namanya. Di salah
satu sudut danau itu terpasang water
fountain, yaitu air mancur yang yang memancar ke udara mencapai 140 meter. Water
fountain dapat dinikmati sambil
santai dari tepi danau, baik siang maupun malam hari. Danau Jenewa dan pancuran
air tersebut menjadi salah satu icon Kota Jenewa. Yang menarik adalah, sekalipun sekeliling
danau itu ada rumah penduduk tapi airnya tetap bersih dan jernih , tidak ada sampah seperti
di sejumlah sungai di negeri kita.
Masyarakat Kota Jenewa tidak buang sampah ke danau. Dan ternyata kearifan
mereka merawat danau dengan salah satunya tidak membuang sampah ke dalamnya
telah menghadirkan keuntungan luar biasa dalam bentuk keindahan kota dan
mendatangkan keuntungan finansial dari kunjungan wisatawan.
Melihat danau Jenewa yang bersih dan kesadaran
warganya tidak membuang sampah ke danau pikiran saya seperti melayang ke Daerah Aliran sungai (DAS) Krueng Daroy,
Krueng Aceh dan berbagai krueng lainnya di Aceh. Tidak hanya sampah, kebanyakan
tali air di Aceh itu juga penuh dengan
sampah-sampah kimiawi lainnya.
Fakta ketiga. Jenewa kota yang sangat tertib dan
bersih. Tidak ada yang membuang sampah dan putung rokok sembarang tempat. Hutan
dan taman kota tertata rapi dan hijau. Lalu lintasnya juga sangat tertib. Tidak
ada keriuhan klakson. Tidak ada pengendara kenderaan yang ugal-ugalan, sok
kuasa dan merasa sebagai penguasa jalan. Tidak ada yang menerobos lampu merah.
Di sini juga ada pengendara mobil gede, tapi jalannya sendiri-sendiri dan tetap
mengikuti tertib lalu lintas. Bukan seperti pengendara mobil gede di negeri
kita, jalannya bergerombol, merasa
sebagai penguasa tunggal di jalan, menerobos lampu merah serta tanpa sadar
mengganggu pengguna jalan lainnya plus dikawal polisi lagi.
Dan yang paling istimewa adalah penghargaan kepada
pejalan kaki. Di setiap traffig light
di Kota Jenewa selalu ada sinyal lampu untuk pengguna jalan kaki --- tidak
hanya untuk kenderaan. Sehingga dengan karenannya pejalan kaki tahu kapan dia
aman menyeberang dan kapan harus berhenti. Pengendara kenderaan di sini
langsung melambat dan menghentikan kenderaannya bila ada pejalan kaki --- terutama perempuan dan anak-anak ---
menyeberang jalan. Kontras benar dengan kondisi di Negeri Syari’at kita, ketika
ada yang menyeberang jalan pengendara bukan malah melambat tapi mempercepat dan
diiringan belalakan mata, klakson keras dan umpatan.
Minimal dengan tiga fakta di atas dan kalau diurut
masih banyak yang lainnya, saya merasa sangat layak bila Kota Jenewa disebut
kota yang islami. Warganya sangat religius.
Kotanya bersih, hijau serta
berudara segar. Termasuk tidak ada warga yang merokok sembarang
tempat. Lalu lintas terbit serta Pemerintah
Kotanya sangat berempati kepada kepentingan warga. Suasana kotanya teduh dan
menyenangkan. Tidak membuat stress.
Nah, dengan fakta demikian, sepakatkah Anda bila saya menyebut Kota Jenewa sebagai kota Islami?. Lalu bagaimana
dengan kota-kota di Aceh yang kita klaim Islami?. Atau menurut Anda kita lebih
baik enjoi aja: apalah arti sebuah nama!. [].

0 komentar
Silahkan tinggalkan komentar anda...