Hijrah Menuju Aceh Baru
Bagi Nabi saw, hijrah bukan hanya merupakan strategi dakwah Islam,
tapi juga merupakan pengembangan kecerdasan spiritual dan pendidikan
nilai. Sungguh luar biasa kesabaran jiwa Nabi saw dan para sahabatnya
dalam menghadapi berbagai intimidasi, cercaan, makian, boikot, bahkan
ancaman pembunuhan terhadap dirinya dari kaum kafir Quraisy.
Sesuai dengan hasil “permufakatan jahat” di Darun Nadwah, tempat
berkumpulnya para petinggi Quraisy, Abu Jahal telah mengerahkan ratusan
pasukan untuk mengepung rumah Nabi Muhammad saw untuk menangkap
hidup-hidup atau membunuhnya. Rencana jahat itu disampaikan Jibril
kepada Nabi saw agar pada malam hijrah itu Ali bin Abi Thalib menempati
tempat tidur Nabi dan beliau diizinkan untuk berhijrah. Kata Nabi saw
kepada Ali: “Tidurlah di atas ranjangku dan berselimutlah dengan
selimutku yang berwarna hijau ini.”
Pada saat itu, Allah Swt juga menurunkan ayat kepada Nabi Muhammad
saw: “Dan, ketika orang-orang kafir itu membuat rencana jahat terhadapmu
untuk dapat menangkapmu, membunuhmu, atau mengusirmu; mereka
merencanakan jahat dan Allah pun membuat rencana serupa. Allah itu Maha
Pembuat Rencana.” (QS. Al-Anfal: 30).
Menuju Yatsrib
Ketika menerima ayat tersebut, Nabi saw sama sekali tidak panik dan berkecil hati. Nabi saw meninggalkan kota kelahirannya Mekkah, menuju Yatsrib (Madinah) dengan terlebih dulu transit selama tiga malam di Gua Tsur. Peristiwa transitnya Nabi saw dalam Gua Tsur ini memberi pelajaran bahwa dakwah dan pendidikan Islam harus dikawal dengan penuh perencanaan dan strategi.
Ketika menerima ayat tersebut, Nabi saw sama sekali tidak panik dan berkecil hati. Nabi saw meninggalkan kota kelahirannya Mekkah, menuju Yatsrib (Madinah) dengan terlebih dulu transit selama tiga malam di Gua Tsur. Peristiwa transitnya Nabi saw dalam Gua Tsur ini memberi pelajaran bahwa dakwah dan pendidikan Islam harus dikawal dengan penuh perencanaan dan strategi.
Kalau saja Nabi saw tidak transit, boleh jadi beliau dan Abu Bakar
Ash-Shiddiq dapat dikejar dan ditangkap oleh pasukan bayaran Quraisy.
Strategi Nabi saw sangat efektif. Dengan transit ini, beliau dapat
melakukan apa yang dalam bahasa militer disebut “operasi intelijen”
melalui Abdullah dan Asma’ binti Abu Bakar terhadap pergerakan musuh,
sekaligus dapat menambah pasokan logistik karena perjalanan yang
ditempuh masih jauh.
Di gua tersebut, sahabat Abu Bakar sempat menangis disebabkan:
Pertama, ketakutan lantaran melihat musuh yang mengintip dari mulut gua.
Dan, kedua, kesakitan karena menahan gigitan ular yang ada di salah
satu lubang gua. Nabi saw kemudian membacakan ayat: “...Jangan engkau
bersedih hati. Sesungguhnya, Allah bersama kita. Lalu, Allah memberikan
ketenangan kepadanya dan memberikan dukungan berupa tentara yang tidak
dapat dilihat. Dan, Allah menjadikan “misi” orang-orang kafir itu rendah
(gagal), sementara kalimah Allah itu paling tinggi (unggul).” (QS.
At-Taubah: 40).
Dengan demikian, hijrah spiritual mendidik kita untuk tidak takut kepada musuh Islam, sebab yang harus dan hanya ditakuti adalah Allah Swt. Pendidikan nilai spiritual semacam ini sangat penting karena sering kali manusia lebih takut kehilangan kedudukan, jabatan, dan kekuasaan daripada takut kepada azab Allah Swt. Nabi saw berhijrah bukan untuk melarikan diri, tetapi menyelamatkan visi dan misi Islam sebagai rahmat untuk semua.
Oleh karena itu, pesan moral hijrah yang terpenting adalah pendidikan mental spiritual dengan memurnikan tauhid kepada Allah dan sekaligus pembebasan umat manusia dari ketertindasan, kezaliman, dan penjajahan, terutama penjajahan hawa nafsu. Selama prosesi hijrah, Nabi SAW sungguh menampilkan figur teladan dalam mengawal dan menyelamatkan visi dan misi suci Islam dengan penuh amanah dan kecerdasan intelektual, emosional, ataupun spiritual.
Hijrah mendidik umat Islam agar selalu berkomitmen terhadap nilai-nilai heroik. Menjadi Muslim harus siap menjadi pejuang serta penegak kebenaran dan keadilan, di mana pun dan kapan pun. Nilai-nilai heroik dari hijrah tidak hanya tercermin dalam hijrah pertama umat Islam ke Habsyi (yang waktu itu tidak diikuti langsung oleh Nabi saw), tapi juga terlihat dengan jelas dalam peristiwa hijrah Nabi saw dan para sahabatnya dari Mekkah ke Madinah.
Mereka semua rela mengorbankan harta, raga, dan bahkan jiwanya demi kejayaan Islam. Nilai heroik semacam ini sangat penting karena tidak jarang sebagian orang, ketika dihadapkan kepada pilihan perjuangan, yang dicari adalah ‘menyelamatkan diri’ lebih dulu dan mencari keuntungan (duniawi) yang sebesar-besarnya.
Pendidikan nilai spiritual dan sosial dari hijrah juga tampak dalam regulasi Nabi saw terhadap masyarakat plural Yatsrib (Madinah). Dengan membangun masjid, sebagai pusat pendidikan nilai dan pemeradaban umat, Nabi saw melakukan transformasi nilai-nilai spiritual dan sosial. Dengan pembuatan traktat (mitsaq) Madinah, Nabi saw mengonsolidasikan dan menyatukan potensi dan kekuatan masyarakat.
Nabi saw dan para Muhajirin datang ke Madinah bukan untuk mengekspansi, tetapi memberikan pendidikan nilai berupa pentingnya integrasi berbagai elemen masyarakat, sehingga dapat diwujudkan sistem masyarakat dan bangsa yang berperadaban. Integrasi ini terbukti sangat efektif dilakukan oleh Nabi saw, sehingga dalam waktu yang relatif singkat Islam menjelma menjadi sebuah kekuatan politik yang mampu mendamaikan berbagai faksi, etnis, dan suku bangsa yang bertikai serta mewujudkan masyarakat madani yang berkeadilan dan berkesejahteraan.
Dengan demikian, hijrah spiritual mendidik kita untuk tidak takut kepada musuh Islam, sebab yang harus dan hanya ditakuti adalah Allah Swt. Pendidikan nilai spiritual semacam ini sangat penting karena sering kali manusia lebih takut kehilangan kedudukan, jabatan, dan kekuasaan daripada takut kepada azab Allah Swt. Nabi saw berhijrah bukan untuk melarikan diri, tetapi menyelamatkan visi dan misi Islam sebagai rahmat untuk semua.
Oleh karena itu, pesan moral hijrah yang terpenting adalah pendidikan mental spiritual dengan memurnikan tauhid kepada Allah dan sekaligus pembebasan umat manusia dari ketertindasan, kezaliman, dan penjajahan, terutama penjajahan hawa nafsu. Selama prosesi hijrah, Nabi SAW sungguh menampilkan figur teladan dalam mengawal dan menyelamatkan visi dan misi suci Islam dengan penuh amanah dan kecerdasan intelektual, emosional, ataupun spiritual.
Hijrah mendidik umat Islam agar selalu berkomitmen terhadap nilai-nilai heroik. Menjadi Muslim harus siap menjadi pejuang serta penegak kebenaran dan keadilan, di mana pun dan kapan pun. Nilai-nilai heroik dari hijrah tidak hanya tercermin dalam hijrah pertama umat Islam ke Habsyi (yang waktu itu tidak diikuti langsung oleh Nabi saw), tapi juga terlihat dengan jelas dalam peristiwa hijrah Nabi saw dan para sahabatnya dari Mekkah ke Madinah.
Mereka semua rela mengorbankan harta, raga, dan bahkan jiwanya demi kejayaan Islam. Nilai heroik semacam ini sangat penting karena tidak jarang sebagian orang, ketika dihadapkan kepada pilihan perjuangan, yang dicari adalah ‘menyelamatkan diri’ lebih dulu dan mencari keuntungan (duniawi) yang sebesar-besarnya.
Pendidikan nilai spiritual dan sosial dari hijrah juga tampak dalam regulasi Nabi saw terhadap masyarakat plural Yatsrib (Madinah). Dengan membangun masjid, sebagai pusat pendidikan nilai dan pemeradaban umat, Nabi saw melakukan transformasi nilai-nilai spiritual dan sosial. Dengan pembuatan traktat (mitsaq) Madinah, Nabi saw mengonsolidasikan dan menyatukan potensi dan kekuatan masyarakat.
Nabi saw dan para Muhajirin datang ke Madinah bukan untuk mengekspansi, tetapi memberikan pendidikan nilai berupa pentingnya integrasi berbagai elemen masyarakat, sehingga dapat diwujudkan sistem masyarakat dan bangsa yang berperadaban. Integrasi ini terbukti sangat efektif dilakukan oleh Nabi saw, sehingga dalam waktu yang relatif singkat Islam menjelma menjadi sebuah kekuatan politik yang mampu mendamaikan berbagai faksi, etnis, dan suku bangsa yang bertikai serta mewujudkan masyarakat madani yang berkeadilan dan berkesejahteraan.
Peristiwa hijrah juga sarat dengan nilai tauhid dan kemanusiaan.
Khalifah Umar ibn al-Khattab memaknai peristiwa ini, antara lain, dengan
penetapan kalender Islam (Hijriyah). Kalender Hijriyah ini mengandung
pesan tauhid yang sangat dalam bahwa nama-nama hari dalam kalender ini
dimulai dengan Ahad (Esa), Itsnain (Senin, dua), dan seterusnya.
Penamaan hari dalam kalender ini tidak lagi dipengaruhi oleh mitologi
Yunani atau Romawi yang sarat dengan kemusyrikan, seperti dalam penamaan
Sunday (dewa matahari) untuk hari pertama, Monday (dewa bulan) untuk
hari kedua, dan seterusnya.
Hari keenam dinamai Jumat yang berarti pertemuan, konsolidasi, dan
persatuan karena umat Islam (lelaki) wajib melakukan shalat berjamaah di
masjid. Sedangkan, hari ketujuh dinamai Sabt yang berarti istirahat
karena umat Islam diharapkan tidak meniru tradisi Yahudi yang pada hari
itu melakukan ‘ibadah’ dan berdoa di tembok ratapan. Dengan demikian,
peristiwa hijrah merupakan proses reformasi tauhid (iman) dan sekaligus
transformasi sosial dan kultural kemanusiaan.
Dalam konteks ini, Hannan al-Lahham dalam bukunya, Hadyu as-Sirah al-Nabawiyyah fi al-Taghyir al-Ijtima’i (2002), menyatakan bahwa hijrah yang selalu aktual dan kontekstual adalah hijrah spiritual. Setiap Muslim dituntut mampu melakukan perubahan menuju peningkatan kualitas iman dan takwa: ketakwaan personal dan sekaligus ketakwaan sosial-kultural.
Momentum pergantian Tahun Baru 1437 Hijriyah sudah semestinya menjadi tonggak perubahan atau transformasi. Sudah saatnya masyarakat kita berubah (mengubah diri) dari pemalas menjadi pejuang; dari pecundang menjadi pemenang; dari perusak alam menjadi pemelihara; dari mental dan budaya korup menjadi bermental amanah, jujur, dan bersih. Yang sangat dibutuhkan oleh bangsa kita ke depan adalah membangun karakter (character building) yang tangguh.
Hijrah, menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, mendidik kita semua untuk tidak menghambakan diri kepada semua tujuan dengan menghalalkan segala cara. Namun, yang menjadi orientasi dan tujuan hidup kita adalah cinta dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Perubahan besar hanya dapat terjadi --termasuk di Aceh-- jika kita telah dengan serius “menghijrahkan” diri kita dari kondisi jahiliyah (syirik, termasuk syirik politik, dan kebiadaban) menuju sistem nilai “Madinah” yang berperadaban dan berkeadaban. Ayo berhijrah menuju “Aceh Baru”! Selamat Tahun Baru 1437 Hijriyah.
Dalam konteks ini, Hannan al-Lahham dalam bukunya, Hadyu as-Sirah al-Nabawiyyah fi al-Taghyir al-Ijtima’i (2002), menyatakan bahwa hijrah yang selalu aktual dan kontekstual adalah hijrah spiritual. Setiap Muslim dituntut mampu melakukan perubahan menuju peningkatan kualitas iman dan takwa: ketakwaan personal dan sekaligus ketakwaan sosial-kultural.
Momentum pergantian Tahun Baru 1437 Hijriyah sudah semestinya menjadi tonggak perubahan atau transformasi. Sudah saatnya masyarakat kita berubah (mengubah diri) dari pemalas menjadi pejuang; dari pecundang menjadi pemenang; dari perusak alam menjadi pemelihara; dari mental dan budaya korup menjadi bermental amanah, jujur, dan bersih. Yang sangat dibutuhkan oleh bangsa kita ke depan adalah membangun karakter (character building) yang tangguh.
Hijrah, menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, mendidik kita semua untuk tidak menghambakan diri kepada semua tujuan dengan menghalalkan segala cara. Namun, yang menjadi orientasi dan tujuan hidup kita adalah cinta dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Perubahan besar hanya dapat terjadi --termasuk di Aceh-- jika kita telah dengan serius “menghijrahkan” diri kita dari kondisi jahiliyah (syirik, termasuk syirik politik, dan kebiadaban) menuju sistem nilai “Madinah” yang berperadaban dan berkeadaban. Ayo berhijrah menuju “Aceh Baru”! Selamat Tahun Baru 1437 Hijriyah.
0 komentar
Silahkan tinggalkan komentar anda...