Negeri “Tanpa” Polisi
Di Banda Aceh, di setiap pagi, saat mengantar anak atau pergi ke kantor kita sangat mudah menjumpai sosok polisi yang bertugas di berbagai persimpangan jalan.
Di tempat kita ini, traffigh light (lampu pengatur lalu lintas) tidak mencukupi sebagai sarana pengatur arus lalu lintas. Masih sangat dibutuhkan tenaga polisi untuk mengatur kelancaran dan ketertiban lalu lintas pengguna jalan. Sudah ada polisi saja masih ada warga kita yang gagah berani menerobos lampu lalu lintas, melawan arah dan berbagai tindakan “heroik” lainnya yang sangat mengganggu pengguna jalan. Karena itu, wajar dan masih sangat perlu di setiap waktu harus ada polisi di berbagai persimpangan jalan.
Kondisi seperti ini tidak saya jumpai di sejumlah kota di Eropa. Selama kunjungan saya ke Eropa, baik di Kota Jenewa dan Zurich di Swiss, Kota Salburg dan Vienna di Austria, Munich di Jerman, Pandorf dan Budapest di Hongaria, serta Kota Praha di Republik Ceko saya tidak menemukan polisi bertebaran di sepanjang jalan sebagaimana halnya di negeri kita. Polisi juga tidak terlihat di pusat-pusat pasar di Eropa.
Selama dua belas hari di Eropa nyaris saya tidak menyaksikan sosok polisi di sini. Hanya dua kali saya bertemu polisi, itu pun tidak dalam jumlah banyak.
Pertama, di satasiun kereta api Vienna (Austria). Kehadiran polisi di tempat itu lebih dalam rangka memberikan rasa aman dan tertib bagi imigran Timur Tengah yang sedang berkumpul menunggu pemberangkatan kereta api.
Kedua, saya melihat kemunculan polisi saat bersama rombongan turun makan di sebuah restoran di Jenewa. Pasalnya hanya sederhana. Di kota-kota Eropa, karena keterbatasan tempat parkir --- selain tempat khusus parkiran --- kenderaan terutama mobil tidak boleh parkir lebih dari satu jam. Karena rombongan kami banyak dan durasi waktu makan lebih dari satu jam, seorang polisi tiba-tiba datang karena ada yang melapor. Sang polisi hanya meminta agar mobil yang mengantar kami dipindahkan, lalu yang bersangkutan pergi.
Selebihnya harus saya katakan sangat sulit menjumpai atau menyaksikan polisi berdiri dan mengawasi di berbagai ruas jalan di Eropa. Tidak juga polisi tidur seperti di Indonesia di berbagai ruas jalan. Mendatangi jalan, pasar, dan pusat aktifitas masyarakat di kota-kota Eropa nyaris seperti kita berkunjung ke negeri “tanpa” polisi.
Mengapa?
Mungkin Anda bertanya, mengapa demikian?. Apakah di sana tidak ada polisi, atau jumlah personil polisinya sedikit, sehingga tidak cukup petugas kepolisian berjaga-jaga di jalan seperti di Aceh?.
Ternyata tidak demikian. Dari sejumlah pihak yang saya konfirmasi di Eropa, di negeri kulit putih ini, di samping tentera --- seperti di Indonesia --- juga ada polisi. Bahkan diceritakan polisi di Eropa jauh lebih gagah dan mendapat gaji lebih besar dari polisi kita.
Cuma mereka tidak ditugaskan berdiri di persimpangan jalan setiap hari. Di kota-kota Eropa untuk mengatur arus lalu lintas sudah memadai dengan traffigh light yang dipasang di setiap persimpangan jalan. Pengguna jalan di sini sangat disiplin berlalu lintas dan mengikuti ritme sinyal lampu lalu lintas.
Selama saya di Eropa, beberapa waktu saya sengaja mencari persimpangan jalan mengamati perilaku warga berlalulintas di sini. Yah, luar biasa. Sekalipun tidak ada polisi yang mengawasi mereka tidak ada satupun yang menerobos lampu merah.
Tidak ada yang melawan arus. Tidak ada keriuhan bunyi klakson sebagai personifikasi kemarahan dan simbol sok berkuasa di jalan. Tidak ada yang melawan arus atau menyerobot pengendara lainnya.
Soal berlalu lintas, ternyata masyarakat Eropa punya kesadaran personal dan kolektif yang luar biasa. Telah menjadi peradaban kolektif mereka. Jalan dan peradaban berlalu lintas di Eropa yang tertib dan teratur seakan menjadi pencerminan dari karakter masyarakat mereka yang tertib dan teratur dalam segala hal. Karena itu pula mereka layak menjadi bangsa yang maju.
Ketika berada di jalan-jalan di Eropa, seakan kondisi ini menusuk dalam-dalam jantung hati saya dan mendorong saya terpaksa mengakui bahwa sebegaimana semrautnya kita berlalu lintas di jalan sebegitu pula semraut dan tidak tertibnya kita dalam berbangsa dan bernegara. Di jalan kita suka sikap menang sendiri, mementingkan kelompok sendiri serta sok gagah-gagahan , maka dalam mengelola pemerintahan dan melayani rakyat pun kita seperti koboy jalanan.
Kesadaran kolektif yang seperti inilah saya saksikan yang menyebabkan polisi Eropa tidak sibuk dan ringan kerjanya. Kesadaran moral yang tinggi di kalangan masyarakat Eropa akan pentingnya kepatuhan kepada hukum dan hidup tertib, bukan karena takut akan ancaman hukuman, menyebabkan negeri itu tertib, maju dan mengagumkan.
Masyarakat Eropa rupanya juga menyadari bawa tertib berlalu lintas merupakan bagian dari peradaban sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang berperadaban tinggi mereka yakini pasti memiliki budaya dan adab berlalu lintas yang baik, tertib dan berkualitas. Sebaliknya, bangsa yang kacau balau berlalulintas di jalan raya, sekalipun bangsa itu sebuah bangsa besar namun bangsa tersebut belum sempurna keadabannya. Alias tidak beradab.
Ternyata inilah jawaban kenapa wajah polisi tidak nampak di jalan-jalan Kota Eropa.
Polisi di sana juga tidak melakukan pengawasan terhadap berbagai pelanggaran lalu lintas, misalnya kecepatan kenderaan yang melebihi ketentuan atau tidak bayar tol. Semua pelanggaran berlalu lintas ini cukup hanya direkam kamera pengintai yang dipasang di sejumlah titik sepanjanag jalan. Selanjutnya kantor kepolisian tinggal mengirim pemberitahuan sanksi termasuk mencabut SIM kepada pelanggar lalu lintas.
Nah, ternyata Eropa adalah negeri “tanpa” polisi.
Kapan sih kita seperti Eropa?.[]

0 komentar
Silahkan tinggalkan komentar anda...