Istanbul, Sebuah Kota di Dua Benua
Melihat posisi dipeta, Kota Istanbul merupakan
satu-satunya kota di dunia yang terhampar di dua benua, yaitu Benua Eropa dan
Benua Asia. Bagian utama kota itu membentuk bagian paling tenggara Benua Eropa yang dipisahkan oleh Selat Bosporus di sisi
Asia Barat. Selat Bosporus yang terlihat
sangat indah itu mengalir melalui celah dalam yang memisahkan dua benua
tersebut di sudut barat laut Turki.
Posisi Istanbul
yang berada di dua benua itu menyebabkan terjadinya percampuran dua budaya (Eropa Tenggara dan Asia
Barat) sehingga secara alamiah
menjadikan Istanbul semakin menarik untuk dijelajahi. Terutama terkait
kemajemukan dan kebhinnekaan budaya yang
dimilikinya.
Kini, sekalipun Istanbul bukan lagi ibukota Turki,
namun karena Istanbul pernah menjadi ibukota kekaisaran dunia maka sampai saat ini Kota Istanbul tetap menjadi kota penting di Turki. Konon
eskalasi politik di Istanbul menjadi barometer suasana politik naasional Turki.
Di Istanbul bersama rombongan saya menginap di Hotel
Ramada, sebuah hotel yang terletak di pinggir Kota Istanbul. Dari sejumlah
sumber yang coba saya konfirmasi, Istanbul
merupakan salah satu kota terbesar di Turki yang menjadi
jantung ekonomi, budaya, dan sejarah negara ini. Dengan jumlah
penduduk 13,9 juta (berdasarkan penelusuran di Google), kota ini membentuk
salah satu aglomerasi perkotaan terbesar
di Eropa dan termasuk salah satu kota terbesar di dunia menurut jumlah
penduduk di dalam batas kota.
Istanbul yang memiliki luas 5.343 km (2,063 mil) ini
berbatasan dengan provinsi Istanbul dan menjadi
ibu kota administratifnya. Istanbul
adalah kota lintas benua yang membentang melintasi Selat Bosporus — salah satu perairan tersibuk di dunia— di Turki barat laut, antara Laut Marmara dan Laut Hitam . Pusat
perdagangan dan sejarahnya terletak di Benua Eropa, sementara sepertiga
penduduknya tinggal di Benua Asia bagian barat.
Dengan demikian, seperti saya sebutkan sebelumnya, Turki
adalah negara unik. Di satu sisi menjadi bagian dan Eropa, di sisi lainnya
masuk dalam Benua Asia. Karena itu sampai hari ini Turki terus berusaha menjadi bagian dari Masyarakat
Eropa (ME) sekalipun belum berhasil
karena simbol Islam masih begitu kentara pada steriotipe Turki yang
merupakan salah satu hal yang tidak disenangi
Masyarakat Eropa.
Karena mayoritas agama yang dipeluk rakyat Turki adalah Islam maka secara umum
orang Eropa tidak terlalu berkenan dengan Turki, bahkan oleh segelintir
pihak di Eropa Turki disebut mereka sebagai orang sakit Eropa.
Letaknya yang berada di perbatasan Eropa dan Asia
itu menjadikan Turki kaya budaya, sejarah, dan kuliner. Berkeliling di Istanbul, wisatawan dimanjakan dengan keindahan bangunan rumah
ibadah seperti Blue Mosque, Istana Topkapi Sarayi, bazaar, restoran, dan
pemandian yang sangat terkenal yaitu Suleymaniye Hamam.
Istanbul merupakan salah satu kota dengan kunjungan
wisatawan tertinggi di dunia, jumlah kunjungan turis yang datang ke sana dalam
sebulan konon kurang lebih sama dengan jumlah kunjungan wisatawan asing yang ke
Indonesia selama setahun.
Salah satu daya tarik Turki atau Istanbul adalah
catatan sejarahnya yang penuh dengan cerita. Diantaranya
tentang peperangan dua agama terbesar di dunia
yang
terjadi di siniyaitu antara
Islam dan Kristen. Dalam sejumlah buku sejarah dicatat betapa sejumlah negara
Eropa ketika itu dan bahkan sampai hari ini sangat kecewa dengan kejatuhan
Konstantinopel/ Istanbul ke tangan umat Islam.
Kisah fenomenal
Muhammad Al Fatih tentang pendudukan Benteng Konstantinopel juga menjadi sebuah cerita sejarah yang banyak
menjadi inspirasi kaum muslim untuk berkunjung ke Istanbul dan Turki. Sebuah
Benteng dan kota yang selama ratusan tahun dikuasai pihak Kristen Ortodo Yunani dan terkenal sulit untuk ditembus yang
akhirnya bisa ditaklukan oleh Al Fatih.
Buat Anda
pecinta kuliner, Turki menjadi salah satu daya tarik sendiri, aneka macam
makanan tersedia menjadikan Lira (mata uang di Turki) yang kita bawa semakin
menipis kalau tidak bisa menahan keinginan.
Kebab Turki yang
kita kenal di Indonesia, ternyata di Turki disebut doner, sedangkan kebab asli
Turki isinya adalah nasi seperti nasi goreng tapi sedikit, ada daging, dan
sayur sayurnya serta cabe hijau besar.
Sajian kuliner
khas Turki banyak ditemukan di beberapa restoran pinggir jalan. Atau jika ingin
membeli suvenir dan oleh-oleh khas Turki, para wisatawan tinggal mencari bazar
yang ada di sekeliling kota.
Yang pasti, tiga
hari menikmati keindahan Kota Istanbul belumlah memadai. Namun karena
keterbatasan waktu selama tiga hari saya
dan kawan-kawan berupaya maksimal menjelajah setiap lekuk kota Sultan Al-Fatih itu.
Selamat tinggal
Istanbul, kami tunggu kabar baru dari mu, insya Allah kami akan kembali lagi. []

0 komentar
Silahkan tinggalkan komentar anda...