Merpati-merpati Masjidil Haram
SETIAP pergi
ke Masjidil Haram, Mekkah,
kita dengan mudah menjumpai ribuan merpati yang terbang rendah dan hinggap di
pelataran halaman masjid mulia itu. Burung-burung tersebut terlihat jinak,
sekalipun kata pepatah: Jinak-jinak merpati.
Ketika
awal-awal berkunjung ke Mekkah, saya tak terlalu peduli dengan kerumunan burung
merpati itu. Saya anggap biasa saja. Yang namanya merpati kan beda-beda tipis
dengan merpati di negeri sendiri.
Tapi setelah
berkali-kali menemani jamaah umrah dan setiap ke Masjidil Haram saya lewati kerumunan burung
merpati yang bermain di pelataran rumah suci itu, hati saya yang cuek terhadap
burung yang zaman dulu berprofesi sebagai “tukang pos” itu pun berubah.
Pelan dan
bertahap saya mulai menyukai merpati yang selalu setia bergerombolan di
sekeliling Masjidil Haram itu.
Dalam perjalanan umrah kali ini, setelah shalat Subuh dan dilanjutkan dengan
Duha, selama tiga hari berturut-turut saya merasa kian akrab dengan burung dara
itu. Secara khusus saya beli makanan burung, saya bagi dengan penuh
persahabatan kepada sang merpati.
Saya merasakan ada perubahan sikap merpati-merpati itu kepada saya dibandingkan saat kunjungan saya ke Mekkah pada November 2015. Saat itu ketika saya beri umpan, sang merpati terkesan ragu mendekat dan malu-malu kucing. Tapi kali ini saya rasakan ada perubahan sikap sejumlah merpati yang mulai lebih bersahabat dan hinggap manja di pergelangan tangan saya saat memberi mereka umpan.
Saya merasakan ada perubahan sikap merpati-merpati itu kepada saya dibandingkan saat kunjungan saya ke Mekkah pada November 2015. Saat itu ketika saya beri umpan, sang merpati terkesan ragu mendekat dan malu-malu kucing. Tapi kali ini saya rasakan ada perubahan sikap sejumlah merpati yang mulai lebih bersahabat dan hinggap manja di pergelangan tangan saya saat memberi mereka umpan.
Merpati
istimewa
Ketika tahun 2013 umrah bersama suami, saya tak begitu perhatian kepada ribuan burung merpati itu. Saya bahkan heran kepada suami yang setiap pulang-pergi melewati kerumunan burung itu selalu melemparkan makanan yang sengaja disediakannya di kantong baju.
Keheranan
saya itu sempat diklarifikasi suami dengan menjelaskan bahwa merpati yang di
sekeliling Masjidil Haram ini
adalah merpati istimewa. “Ini merpati istimewa Dek, berbeda dengan merpati di
Ulee Kareng, Banda Aceh. Ini adalah keturunan merpati yang dulu membuat sarang
di pintu Gua Tsur untuk melindungi Nabi Muhammad saat dikejar kafir Quraisy
ketika beliau bersama Abubakar hendak hijrah ke Madinah,” jelas suami saya.
Saya memang
menjumpai catatan dalam sejumlah referensi terkait burung merpati yang membuat
sarang di Gua Tsur. Sejak saat itu saya pun jadi simpati dan pencinta burung
merpati Mekkah tersebut.
Sejumlah
penulis sejarah Arab memang meyakini, merpati yang saat ini ada di sekeliling
Baitullah itu adalah keturunan sepasang merpati yang dulu membangun sarang
untuk melindungi Rasulullah di Gua Tsur. Terlepas dari ada pihak yang menyangka
itu mitos, dalam rangka tabarruk kepada Rasulullah saw saya terus bersimpati
kepada burung itu dengan cara ketika pulang dan pergi ke Masjidil Haram saya selalu memberinya umpan.
Tidak mengusir, apalagi menyakiti mereka.
Burung
merpati yang ada di sekeliling Masjidil Haram itu punya ciri berbeda dengan
merpati lain pada umumnya. Warnanya unik dan bulunya dihiasi dua garis
melintang mirip pangkat perwira militer.
Saya
saksikan gerombolan merpati yang jinak itu mengelilingi Kakbah, berputar-putar
seolah-olah tawaf. Mungkin pembaca akan berkata, “Ah, itu kebetulan saja.” Tapi
kalau kita ingat akan kekuasaan Allah, maka kita akan segera menyadari bahwa
tak ada hal yang tidak mungkin. Selain itu, ada fakta lain tentang merpati
Mekkah ini yang mencengangkan Anda.
Di langit Jazirah Arab terkenal beragam jenis burung pemangsa, seperti elang dan alap-alap. Merpati adalah sasaran empuk burung elang. Tapi anehnya, sejumlah sumber menyebutkan, tak seekor burung elang pun di Mekkah pernah terlihat berputar-putar mengincar merpati sebagai mangsanya seperti di negeri kita.
Di langit Jazirah Arab terkenal beragam jenis burung pemangsa, seperti elang dan alap-alap. Merpati adalah sasaran empuk burung elang. Tapi anehnya, sejumlah sumber menyebutkan, tak seekor burung elang pun di Mekkah pernah terlihat berputar-putar mengincar merpati sebagai mangsanya seperti di negeri kita.
Penduduk
Mekkah pun tak jauh beda. Mereka sangat menyukai kerumunan merpati di sekeling Masjidil Haram yang mereka sebut sebagai “merpati
nabi” itu. Mereka tak pernah terganggu dengan kehadiran merpati-merpati
tersebut. Mereka bahkan bikin kesepakatan untuk tak menyembelih burung-burung
itu.
Mereka juga
suka membiarkan saja merpati-merpati masuk ke rumah-rumah seolah-olah itu adalah
bagian dari keluarganya. Mereka muliakan merpati-merpati Mekkah karena yakin
burung-burung itu keturunan langsung merpati yang dulu melindungi Nabi
Muhammad.
Tentu
reportase saya ini tidak dalam rangka mengajak pembaca berpolemik soal benar
salah ada hubungan genetik antara merpati yang sekeliling Kakbah sekarang
dengan merpati di Gua Tsur zaman nabi dulu tersebut.
Saya hanya ingin menginformasikan bahwa ternyata merpati adalah burung yang tak memiliki empedu. Ia tak menyimpan kepahitan sehingga tak pernah menyimpan, apalagi mewarisi dendam. Karenanya, merpati adalah burung yang sangat mudah memaafkan dan melupakan kepahitan masa lalu. Merpati juga sangat mudah melakukan rekonsiliasi dengan sesama bangsanya.
Lalu, jika seekor merpati saja mudah saling memaafkan dan doyan rekonsiliasi, mengapa kita sangat susah? Saatnya belajar dari merpati.
Saya hanya ingin menginformasikan bahwa ternyata merpati adalah burung yang tak memiliki empedu. Ia tak menyimpan kepahitan sehingga tak pernah menyimpan, apalagi mewarisi dendam. Karenanya, merpati adalah burung yang sangat mudah memaafkan dan melupakan kepahitan masa lalu. Merpati juga sangat mudah melakukan rekonsiliasi dengan sesama bangsanya.
Lalu, jika seekor merpati saja mudah saling memaafkan dan doyan rekonsiliasi, mengapa kita sangat susah? Saatnya belajar dari merpati.
- Reportase ini di tulis Oleh Hj. Nur Asiah Ibrahim, seorang Ibu Rumah tangga dan dimuat di Rubrik Citizen Reporter Serambi Indonesia 2 Pebruari 2016.

0 komentar
Silahkan tinggalkan komentar anda...